May 2015
S M T W T F S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
ilmu keluarga dan kosumen
IPB Badge


Psychosocial Predictors of Sexual Initiation and High-risk Sexual behaviors In Early Adolescence

Data jurnal ilmiah yang berjudul “Psychosocial predictors of sexual initiation and high-risk sexual behaviors in early adolescence” diambil melalui self-report survey yang dilakukan pada tahun 2001 dan 2003 dengan objeknya yaitu kelompok kelas enam sekolah dasar (149 kelas dari 17 smp dan sma, populasi keseluruhan berjumlah 1175) di sebuah kota kecil yang terletak di bagian northeast, US.

Hal yang pertama diuji adalah faktor apa saja yang menjadi masalah internal dan eksternal pada anak kelas enam sekolah dasar, rasio perubahan pada faktor-faktor ini selama menjalani sekolah dasar/sekolah menengah pertama, dan perkiraan perilaku seksual usia dini dalam dua tahun kemudian; saat sebagian besar anak-anak tersebut berada di kelas delapan atau setara dengan kelas tiga sekolah menengah pertama di indonesia.

Peneliti kemudian menilai tiga hal tersebut (faktor-faktor  masalah internal atau masalah eksternal di kelas enam sekolah dasar, dan rasio perubahan selama mereka masih di sekolah dasar, diperkirakan terikat dengan perilaku seksual yang berisiko tinggi selama dua tahun kemudian) agar dapat menganalisis hasil akhirnya.

Hasil dari penelitian ini adalah murid-murid tersebut terbagi menjadi dua kategori: mereka yang sudah aktif secara seksual di tahun ketiga (n=235 (235%)) dan mereka yang tidak aktif secara seksual di tahun ketiga (n=692 (74,6%)).

Kemunduran hirarki yang logistik dengan penyebab utamanya yaitu perilaku seks pada usia dini (murid-murid yang tidak aktif secara seksual saat kelas enam sekolah dasar, tetapi dilaporkan menjadi aktif secara seksual di tahun ketiga saat sekolah, 1/0) sebagai variabel dependent. Jenis kelamin (laki-laki (1)/perempuan (0), ras (dengan variabel yang dibuat untuk afrika-amerika (1/0) dan hispanik (1/0)), SES yang rendah dan sensasi yang dicari (sensation seeking) termasuk sebagai kontrol.

Penelitian ini menilai efek yang tidak biasa dari beberapa bentuk tentang faktor internal dan eksternal psikopatologi dalam aktivitas seksual dan seks bebas di usia sekolah menengah pertama. Dengan menggunakan tiga tahun desain longitudinal yang memakai tiga macam pengukuran, peneliti memasukkan psikopatologi dari anak-anak kelas enam sekolah dasar sebagai prediktor di perilaku seks usia dini dan perilaku seks yang beresiko tinggi.

Dalam penelitian ini, laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan dalam mencoba intercourse dan tiga kali lebih banyak beresiko melakukan perilaku seksual daripada perempuan dengan perbandingan umur yang sama. Hasil ini diperkirakan karena laki-laki lebih sering membicarakan perilaku tersebut dibandingkan perempuan.

Peneliti juga menemukan koresponden dengan status ekonomi-sosial yang rendah (termasuk di dalamnya struktur keluarga, pendidikan dari orang tua, dan perwakilan ukuran untuk status ekonomi) mempunyai risiko meningkatnya melakukan intercourse lebih awal dibandingkan teman bermainnnya. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang memperlihatkan bahwa pemuda yang orang tuanya adalah single parents, pendapatan rendah atau pengasuhan yang kurang bagus melakukan seks lebih dulu dibandingkan teman bermainnya. Beberapa telah dihipotesiskan bahwa kemiskinan (dengan single parents dan kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan) meningkatkan risiko berperilaku seks (karena terbatasnya dan kurangnya kualitas dalam bersosialisasi dan tenaga pengajar di lingkungan rumah dan masalah ekonomi yang menyebabkan kurangnya pengawasan dari orang tua). Walaupun status sosial-ekonomi dihubungkan dengan meningkatnya resiko perilaku seks usia dini, keterkaitan ini menurun secara signifikan saat psikopatologi megubah variabel sepanjang masa yang dimasukkan ke dalam analisis, ini semua cenderung karena status sosial-ekonomi juga diasosiasikan dengan peningkatan yang luar biasa di faktor eksternal dan sedikit penurunan di masalah internal.

Penelitian baru-baru ini terkait dengan remaja Amerika menemukan bahwa remaja yang melakukan seks di usia dini terkorelasi dengan perilaku seksual yang lebih berisiko seperti misalnya, meningkatnya partner seks dan menurunnya penggunaan kontrasepsi yang mengakibatkan meningkatnya resiko kehamilan tak terencana dan menyebarnya penyakit seks menular. lebih lanjut, dengan menyediakan petunjuk dan perhatian untuk mereka yang aktif di usia muda bisa menurunkan efek negatif dari perilaku seksual usia dini.

Dari faktor psikososial yang telah diteliti, peneliti menemukan bahwa faktor eksternal lebih dapat diperkirakan untuk risiko seksual di usia dini dibandingkan dengan faktor internal. hasil ini mendukung penemuan yang sama di beberapa dokumen literatur antara penyimpangan eksternal di masa kecil dengan  masalah perilaku yang menunjukkan psikopatologi eksternal di masa kecil lebih berpengaruh terhadap perilaku seksual daripada psikopatologi perilaku yang menganiaya.

Kesimpulan dari artikel ilmiah ini adalah orang tua sebagi pendidik utama dalam keluarga seharusnya bisa menentukan pola pengasuhan yang tepat dalam menyikapi usia rentan anak-anaknya (yaitu saat usia anak-anak 11 tahun sampai remaja) sehingga sang anak dapat menentukan cara bersikap dalam menghadapi suatu kondisi sosial di masyarakat dan dapat menganalisis pergaulan mana yang baik dan buruk untuk kehidupan remaja mereka. Tidak hanya berperan sebagai pendidik tetapi juga bisa menempatkan posisi sebagai teman saat anak-anaknya membutuhkan teman bercerita sehingga sang anak tidak canggung dalam bersikap di depan orang tua mereka dan merasa nyaman juga terbuka. Dengan ini orang tua dapat mengawasi perilaku anak tanpa harus selalu mengikuti mereka kemanapun. Rasa kepercayaan orang tua terhadap anak-anak mereka diperlukan pada tahapan ini.

Untuk kasus anak-anak yang berasal dari keluarga miskin (status sosial-ekonomi yang rendah) seharusnya ada bantuan yang konkret dari masyarakat seperti tetangga atau sekolah atau bahkan pemerintah dalam bentuk memberikan pengetahuan kepada kepala keluarga tersebut tentang pentingnya pendidikan seks di usia dini dan cara-cara penyampaian ke anak-anak mereka kemudian juga pengetahuan tentang betapa pentingnya pengawasan orang tua terhadap pergaulan anak-anak mereka, lalu pentingnya suatu pendidikan formal untuk perkembangan anak (tentu saja dengan bantuan pendidikan gratis bila keluarga tersebut disinyalir tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan  anak mereka), adanya bimbingan untuk anak-anak yang kurang mampu ini sehingga mereka tidak masuk dalam pergaulan bebas dan tidak melakukan perilaku seksual di usia dini.

Review artikel ilmiah tentang keluarga

Give Thanks – No Matter What

Penelitian menunjukkan bahwa berterima kasih bagus untuk diri kita. Hal ini dibuktikan dengan orang-orang yang melakukan hal tersebut lebih sehat dibandingkan orang-orang kebanyakan dan lebih sukses dalam meraih impian-impian mereka. Robert Emmons, Ph.D., seorang profesor di University of California, Davis, and pengarang buku “Thanks! How Practicing Gratitude Can Make You Happier.” mengungkapkan bahwa tidak ada yang salah dengan berpura-pura bersyukur atau berterima kasih karena cepat atau lambat kita akan menjadi tulus dalam melakukannya. Barry Schwartz seorang profesor di bidang psikologi di universitas Swarthmore, Pennsylvania berkata bahwa ia tidak pernah menemui orang tua yang menginginkan hal yang cukup untuk anak mereka. Orang tua selalu menginginkan hal yang terbaik bagi anak mereka. Tetapi bila kebahagiaan adalah tujuan kita maka itulah yang akan kita dapatkan.

Menurut fakta, otak manusia harus bertindak dan merasakan hal yang sama. Contohnya saja anak kecil susah tersenyum saat berkata sesuatu yang jahat. Ekspresi mereka akan mengikuti apa yang diucapkan oleh mulut mereka. Karena itu orang-orang dianjurkan untuk berdoa karena di dalam isi suatu doa tidak ada yang jelek. Sering-seringlah kita mengucapkan hal-hal yang baik karena dengan otomatis seluruh tubuh kita atau perilaku kita akan melakukan dan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Tetapi dalam keseharian kita selalu saja menemukan orang-orang yang tidak pernah puas terhadap apa yang telah mereka miliki. Schwartz menyebut orang-orang ini sebagai “maximizers”. Ada juga tipe orang yang disebut dengan beliau sebagai “satisficer”, orang-orang yang santai dan menikmati apapun itu yang mereka miliki tanpa peduli dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.

Schwartz menyarankan untuk menjadi “satisficer” dan ajarkan anak untuk melakukan hal yang sama. Anak kecil melihat orang tua sebagai role model mereka. Hal ini juga dijelaskan di mata kuliah psikologi anak yang memaparkan bahwa salah satu tahapan anak dalam perkembangan mereka adalah imitating atau meniru. Dengan bersikap dan berkata yang baik maupun sopan, anak dengan sendirinya akan meniru perilaku orang tua tersebut karena anak belajar dari lingkungan (teori ini disebut dengan enviromentalism). Dan lingkungan yang essensial bagi seorang anak adalah keluarga dengan orang tua sebagai pendidik dan pengawas utama tumbuh kembang anak.

Bila terkadang kita tidak berhasil dalam berperilaku sebagai seorang “satisficer” karena itu bukanlah sifat kita yang asli maka coba untuk meyakinkan pada diri sendiri bahwa kita sudah melakukan setengah perjalanan dengan mencoba menjadi seorang “satisficer”. Jika kita menemukan hambatan, cobalah untuk bersantai sejenak lalu mambaca buku dan kemudian fokuskan kembali pikiranmu.

Penelitian membuktikan bahwa orang-orang yang bahagia adalah orang-orang yang berfokus pada kebahagiaan dan hal-hal yang menyenangkan: baik itu hal-hal di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Seperti yang dijelaskan pada buku The secret, sebuah buku motivasi terkenal di dunia, pikiran kita adalah antena terhebat di dunia. Dia mengirimkan sinyal-sinyal ke jagat raya dan menarik sinyal-sinyal lain yang serupa ke diri kita. Analogi pikiran dan antena ini menjelaskan bahwa apa yang kita pikirkan atau apa yang kita fokuskan adalah apa yang akan kita dapatkan, baik itu cepat maupun lambat akan datang pada diri kita suatu saat nanti, dan itu bersifat pasti. Kekuatan pikiran adalah kekuatan yang menakjubkan tanpa kita sadari sebeumnya.

Menurut Loyola, seorang profesor di bidang psikologi universitas Chicago, memikirkan hal yang bahagia merupakan suatu tantangan yang berat bagi orang dewasa karena mereka cenderung memikirkan hal-hal yang negatif. Tapi sangat mungkin untuk mengajarkan pemikiran bahagia kepada anak-anak walaupun mereka sedang menghadapi suatu masalah, hal ini disebut mengambil hikmah sari suatu peristiwa dengan cara yang menyenangkan.

Cara mengajarkan hal tersebut adalah dengan memfokuskan segala sesuatu di point-point yang bagus saja. Seperti misalnya saat orang tua menceritakan apa yang mereka alami di hari itu, coba untuk menekankan di bagian saat mereka berusaha untuk menghadapi suatu masalah. Dengan begitu maka sang anak akan belajar bagaimana bersikap saat anak menghadapi suatu permasalahan di lingkungan sosialnya.

Anak kecil mungkin saja selalu mengganggu dengan meminta apa yang mereka mau. tapi penelitian selalu menemukan bahwa keinginan untuk memiliki segalanya bukanlah suatu jalan menuju kebahagiaan. Nyatanya, peneliti menemukan bahwa orang-orang akan memberikan imbalan daripada menerima mereka sekaligus. Kita harus berada pada situasi di luar dari zona nyaman kita dan dengan begitu kita akan lebih menghargai apa yang telah kita dapat. Misalnya saja, kita selalu menginginkan rumah yang lebih bagus dari rumah yang kita tempati saat ini. Untuk menghargai dan mensyukuri apa yang kita dapat maka kita harus tinggal atau setidaknya pergi ke tempat yang lebih kumuh. Dengan begitu, kita akan menyadari apa yang kita miliki dan akan lebih banyak bersyukur ke depannya. Teori ini dapat dipraktekkan terhadap anak-anak agar mereka lebih menghargai apa yang mereka miliki dari usia dini.

Tugas analisis gender dan peran keluarga yang terkandung dalam film “Mulan”

Film ini menceritakan tentang pelabelan masyarakat Cina pada jaman dahulu yang menganggap bahwa kedudukan perempuan berada di bawah tingkatan laki-laki, perempuan seharusnya menjadi sesosok makhluk anggun dan selalu lembut. Semua akses perempuan diceritakan terbatas dalam film ini, sehingga karakter Mulan terpojokkan dan tak berdaya karena Mulan bukanlah jenis perempuan yang seperti itu. Sampai pada suatu ketika diceritakan bahwa pasukan Mongolia sudah memasuki wilayah Cina sehingga dibutuhkan minimal satu laki-laki dari setiap keluarga untuk ikut berperang. Ayah Mulan yang terbilang lemah juga terpaksa ikut perang itu sehingga Mulan yang menyayanginya merasa tidak tega. Mulan yang terdorong oleh rasa sayang terhadap ayahnya mengambil keputusan yang sangat radikal, yaitu ikut berperang dengan pasukan Cina untuk menggantikan ayahnya.

Dalam prosesnya ternyata Mulan dapat membuktikan bahwa kemampuan perempuan sama kuatnya dengan kemampuan laki-laki dan Mulan membuktikannya di hadapan seluruh masyarakat Cina dengan mengalahkan pemimpin pasukan Mongolia di istana raja Cina. Rajapun mengakui kehebatan Mulan karena hal itu dan anggapan masyarakat terhadap perempuan berubah sejak saat itu. Film ini memperlihatkan bahwa apa yang bisa dilakukan laki-laki juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan dan meruntuhkan pelabelan masyarakat pada masa itu tentang peran perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sosial masyarakat. Perempuan yang menarik tidak selalu sosok yang lembut dan tidak berdaya tapi juga menggunakan kemampuan berpikirnya dalam menghadapi segala situasi, baik situasi yang sulit maupun senang.

Konsep yang terdapat dalam film Mulan adalah konsep kesetaraan dan keadilan gender  yaitu sebuah konsep yang menjelaskan tentang suatu kondisi dimana porsi dan siklus sosial perempuan dan laki-laki setara, serasi, seimbang dan harmonis. Kondisi ini dapat terwujud apabila terdapat perlakuan adil antara perempuan dan laki-laki. Penerapan kesetaraan dan keadilan gender harus memperhatikan masalah kontekstual dan situasional, bukan berdasarkan perhitungan secara matematis dan tidak bersifat universal. Konsep kesetaraan adalah konsep filosofis yang bersifat kualitatif, tidak selalu bermakna kuantitatif.

Makna perkembangan bahasa pada seorang anak adalah terjadinya perubahan yang besifat terus nenerus dari keadaan sederhana ke keadaan yang lebih lengkap, lebih komleks dan lebih berdiferensiasi (Berk, 2003). Jadi berbicara soal perkembangan bahasa anak yang dibicarakan adalah perubahan. Pertanyaannya adalah perubahan apa saja yang terjadi pada diri seorang anak dalam proses perkembangan bahasa? Untuk menjawab pertanyaan itu maka perlu dipahami tentang aspek-aspek perkembangan. Ada tiga faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu biologis, kognitif, dan lingkungan. Faktor biologis yaitu faktor yang terkait dengan evolusi biologi. Evolusi biologi sendiri merupakan salah satu landasan  perkembangan bahasa. Diyakini bahwa evolusi biologi membentuk manusia menjadi manusia linguistik. Evolusi biologi dapat dilihat dari perkembangan fisik yaitu perubahan dalam ukuran tubuh, proporsi anggota badan, penampilan, dan perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh seperti perkembangan otak, persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan. Perkembangan fisik juga dipengaruhi oleh perkembangan lainnya yaitu perkembangan sosial-emosional. Perkembangan sosial-emosional adalah perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persabatan, dan pengertian tentang moral.

Noam Chomsky (1957) meyakini bahwa  manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (critical-period). Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup.

Selain itu adanya periode penting dalam mempelajari bahasa  bisa dibuktikan salah satunya dari aksen orang dalam berbicara. Menurut teori ini jika orang berimigrasi setelah berusia 12 tahun kemungkinan akan berbicara bahasa Negara yang baru dengan aksen asing pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai anak kecil, aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari (Asher & Gracia, 1969).

Pembahasan berikutnya adalah perkembangan kognitif yang mempunyai definisi perubahan yang bervariasi dalam proses berpikir dalam kecerdasan termasuk didalamnya rentang perhatian, daya ingat, kemampuan belajar, pemecahan masalah, imajinasi, kreativitas, dan keunikan dalam menyatakan sesuatu dengan mengunakan bahasa. Proses dan sifat penguasaan bahasa setiap orang berlangsung dinamis dan melalui tahapan berjenjang. Dalam hal ini dikenal dua istilah yakni perolehan dan pembelajaran bahasa. Kridalaksana (2001: 159) mendefinisikan perolehan bahasa (language acquisition) sebagai proses pemahaman dan penghasilan bahasa pada manusia melalui beberapa tahap sedangkan pembelajaran bahasa (language learning) diartikan sebagai proses dikuasainya bahasa sendiri atau bahasa lain oleh seorang manusia. Krashen (dalam Johnson & Johnson, 1999: 4) mengemukakan bahwa perolehan bahasa sebagai proses alami yang berlangsung tanpa adanya perhatian secara sadar terhadap bentuk-bentuk linguistis; kondisi minimal perolehan ialah partisipasi dalam situasi komunikasi yang alami.

Adapun pembelajaran merupakan proses yang terjadi secara sadar yang oleh Krashen ditandai dengan dua karakteristik: adanya umpan balik dan pengisolasian kaidah. Sebagian ahli mengeritik gagasan Krashen karena dianggap tidak mampu membedakan kedua proses tersebut secara memuaskan (Johnson & Johnson, 1999: 4). Terlepas dari itu, para ahli sepakat bahwa aspek yang terpenting dalam perolehan bahasa adalah fungsi bahasa. Salah satu fungsi bahasa adalah alat berkomunikasi. Karena itu, seseorang yang sering menggunakan bahasa untuk berkomunikasi akan semakin tinggi tingkat kompetensi dan performansinya. Dengan kata lain, faktor interaksi akan lebih menentukan keberhasilan seseorang dalam penguasaan bahasa.

Pola asuh yang kreatif, inovatif, seimbang, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak akan menciptakan interaksi dan situasi komunikasi yang memberi kontribusi positif terhadap keterampilan berbahasa anak. Dengan kata lain, kealamian perolehan bahasa tidak dibiarkan mengalir begitu saja, tetapi direkayasa sedemikian rupa agar anak mendapat stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Dengan demikian, diharapkan anak tidak akan mengalami kesulitan ketika memasuki tahap pembelajaran bahasa untuk kemudian menjadi sosok yang terampil berbahasa.

Secara mental, perolehan bahasa bisa dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Sang ibu bisa mengajak bayi berkomunikasi tentang hal yang positif. Kontak batin antara ibu dan janin akan tercipta dengan baik bila kondisi psikis ibu dalam keadaan stabil. Keharmonisan yang terjalin lewat komunikasi bisa memengaruhi kejiwaan anak. Orangtua bisa mengajak anak bercerita tentang kebesaran Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya; mengenalkannya pada kicau burung, kokok ayam, rintik hujan, desir angin; memperdengarkan Kalam Ilahi atau membacakan kisah-kisah bijak. Yudibrata dkk. (1998: 65-72) menjelaskan bahwa selama bulan-bulan pertama pascalahir atau sebelum seorang anak mempelajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai sarana berkomunikasi, anak secara kreatif terlebih dahulu akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara (preespeech). Keempat prabicara itu adalah tangisan, ocehan/celoteh/meraban, isyarat, dan ungkapan emosional. Menurut para pakar, perkembangan pemerolehan bahasa pada anak sangat berhubungan dengan kematangan neuromoskularnya yang kemudian dipengaruhi oleh stimulus yang diperolehnya setiap hari (Yudibrata, 1998: 72-73). Awalnya, tidak ada kontrol terhadap pola tingkah laku termasuk tingkah laku verbalnya. Vokal anak dan otot-otot bicaranya bergerak secara refleks. Pada bulan-bulan pertama otaknya berkembang dan mengatur mekanisme saraf sehingga gerakan refleks tadi sudah dapat dikontrol. Refleks itu berhubungan dengan gerakan lidah atau mulut. Misalnya, anak akan mengedipkan mata kalau melihat cahaya yang berubah-ubah atau bibirnya akan bergerak-gerak ketika ada sesuatu disentuhkan ke bibirnya. Selanjutnya, dalam rangka memerikan perkembangan pemerolehan bahasa, Stork dan Widdowson (dalam Yudibrata, 1998: 73) membedakan antara kematangan menyimak (receptive language skills) dan kematangan mengeluarkan bunyi bahasa atau berbicara (expressive language skills). Kematangan menyimak terjadi lebih dahulu daripada kematangan berbicara meskipun dalam perkembangan selanjutnya kedua kematangan ini saling berhubungan.

Pada awal kelahirannya, anak belum dapat membalas stimulus yang berasal dari manusia. Seiring dengan berfungsinya alat artikulasi, yakni ketika anak sudah mulai berceloteh dengan bunyi bilabial seperti [m] untuk ma-ma dan [p] untuk pa-pa atau [b] untuk ba-ba, orangtua sudah bisa melakukan interaksi bahasa dengan anak. Satu hal yang perlu diingat, ma-ma dan pa-pa sebagai celotehan anak bukan merujuk pada makna kata secara harfiah yang berarti ibu dan ayah, melainkan karena semata-mata bunyi konsonan bilabial dan vokal [a] adalah bunyi yang mudah dikuasai pada saat permulaan berujar. Dari keterampilan ini bisa terjalin suasana yang lebih komunikatif antara orangtua dan anak yang berdampak pada perkembangan selanjutnya. Dampaknya bisa positif bisa juga negatif. Semakin baik stimulus yang diberikan orangtua, semakin positif respon yang dimunculkan anak.

Untuk melatih keterampilan menyimak, orangtua bisa menggunakan metode simak-dengar dengan menyuguhi anak cerita yang disukainya. Penceritaan langsung tanpa menggunakan buku sekali-kali perlu dilakukan untuk perubahan suasana. Bercerita langsung dengan kata-kata sendiri yang dimengerti anak akan memberi efek lebih pada penceritaannya. Kegiatan bercerita ini hendaknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa pertama anak).

Keterampilan menyimak akan berdampak pada keterampilan berbicara. Stimulus orangtua yang berupa data simakan bagi anak bisa direspon dengan metode ulang-ucap. Metode ini akan menunjukkan daya serap anak terhadap cerita atau ujaran orangtua. Pada tahapan ini, orangtua sebaiknya mengubah posisi dari posisi pencerita menjadi pendengar yang baik. Biarkan anak bercerita dengan lugas menurut pemahamannya. Ini bisa membantu anak dalam proses berbicara. Orangtua jangan menuntut anak untuk bercerita sesuai dengan gaya penceritaan orangtua. Hal itu akan membuat jiwa anak tertekan dan terhambat daya kreativitasnya dalam berbahasa. Terkadang anak ingin berbagi cerita tentang suatu hal yang baru dialami atau didapatinya dan ia akan sangat senang jika orangtuanya mau meluangkan sedikit waktu untuk duduk bersamanya dan mendengarkan celoteh riangnya. Namun, ada kalanya anak enggan bercerita sama sekali. Jika ini terjadi, jangan paksa anak untuk bercerita. Kondisi psikis anak tidak selalu dalam keadaan yang stabil. Seringkali timbul sensitivitas yang memengaruhi sisi kejiwaannya sehingga muncul perasaan kesal, marah, atau benci pada sesuatu hal. Dialog atau komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak bisa menjadi alternatif solusi. Buanglah anggapan bahwa itu merupakan hal sepele yang lumrah terjadi dan anak akan pulih dengan sendirinya.

Seiring dengan perkembangannya, anak akan mencari dan menemui wahana lain yang membuka peluang lebih untuk mengekspresikan keterampilan yang telah ada. Kenalkanlah anak pada buku. Mengenal dunia baru melalui bahasa nonverbal ini akan atau bisa menjadi keasyikan tersendiri bagi anak. Adanya perpustakaan mini di salah satu sudut ruang rumah akan memancing anak untuk mengunjungi wisata ilmu. Dengan buku, anak memunyai berbagai perspektif atau sudut pandang yang luas mengenai suatu objek.

Untuk permulaan, orangtua bisa memilih buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan daya nalar anak. Jika anak memunyai ketertarikan pada sebuah buku, maka berikanlah selama muatan buku tersebut masih wajar bagi anak. Jika anak menanyakan sesuatu yang terdapat di dalam buku, maka jawablah dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Jangan merasa bosan atau jenuh jika anak meminta orangtua untuk membuka dan membaca buku secara berulang-ulang. Bersenang-hatilah jika anak menemui suatu hal baru yang membuatnya ingin mengetahui dan menanyakannya pada orangtua. Hindarilah perasaan jengah untuk merapikan kembali buku-buku yang telah dibaca. Sebagaimana keterampilan sebelumnya, proses ini pun akan optimal jika dilakukan oleh dua pihak, orangtua dan anak.

Keterlibatan orangtua dengan mendemontrasikan kegiatan membaca di depan anak merupakan stimulus yang baik bagi anak. Sesuai dengan naluri anak yang memiliki kecenderungan ingin meniru hal yang orang lain lakukan, hendaknya hal yang menjadi refleksi sikap anak adalah sesuatu yang bernilai positif.

Kegiatan membaca bisa mencakup keterampilan menyimak dan berbicara. Hindarilah anggapan bahwa membaca adalah aktivitas yang selalu duduk menghadap meja dan dinding kamar. Orangtua bisa mengarahkan anak pada kegiatan bermain yang melibatkan buku. Orangtua harus meluangkan waktu untuk menemani anak bercerita. Jika anak ingin mengolaborasikan keterampilan ini dengan menyimak dan berbicara, berilah kesempatan kepadanya untuk menjadi seorang pembaca ulung, sekalipun terhadap boneka-bonekanya. Hal ini tidak akan menjadi kebiasaan karena hanya bersifat temporal. Pada dasarnya anak ingin melakukan interaksi dengan sesuatu yang bisa memengaruhi atau dipengaruhinya.

Keterampilan tertinggi dalam keterampilan berbahasa adalah keterampilan menulis. Ini merupakan produk akhir dari keterampilan sebelumnya. Dengan menulis, anak bisa mengekspresikan hasil menyimak, berbicara, dan membacanya ke dalam sebuah tulisan. Stimulus yang ditawarkan orangtua tidak harus berbentuk perintah coba tulis, tetapi bisa dengan permintaan coba gambarkan. Sebagai permulaan, orangtua bisa memperkenalkan anak kepada alat bantu menulis yang tidak hanya terbatas pada pensil; bisa juga pulpen, spidol, pensil warna, krayon, cat air, atau bahkan arang. Selain menyediakan media khusus bagi anak untuk mencurahkan tulisannya, orangtua bisa juga menyediakan lahan lain sebagai media. Misalnya, salah satu dinding atau tembok di bagian belakang rumah dijadikan kanvas raksasa bagi lukisan abstraknya. Orangtua bisa melatih keterampilan anak dengan memberi rangsangan berupa poster aksi yang bisa mendorong minat anak untuk merespon dengan mencoba meniru objek yang sudah ada. Dalam hal ini, orangtua bisa menggunakan poster pengenalan huruf dan angka yang dipasang di tempat-tempat yang mudah dilihat. Sekali lagi, ini dilakukan hanya untuk mendorong minat anak untuk mengenal dan bukan untuk memaksa anak agar bisa dalam satu kali proses.

Pada usia pertumbuhan, pemahaman anak tentang bahasa masih berada dalam tahap abstrak. Misalnya, ketika mendengar kata anjing, yang terekam dalam skemata anak adalah anjing menggonggong. Pada tahap ini pandangan anak terhadap kata belum meluas pada penganalogian, masih terbatas pada apa yang terlihat atau terdengar. Berilah pengertian tentang satu contoh tulisan dengan objek benda yang berwujud dan bisa dibayangkan oleh imajinasi anak. Misalnya, menganalogikan huruf vokal <o> dengan sebuah kue donat. Cara demikian akan mempermudah pemahaman anak sekaligus membantu mengasah daya ingatnya.

Pola asuh seperti dipaparkan di atas akan berhasil bila orangtua mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa anak. Para ahli sepakat bahwa perolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan perolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak tersebut (Yudibrata, 1998: 65). Sebelum anak memasuki lingkungan sosial yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga seharusnya bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan anak. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru pertama yang bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal. Sebagai guru, orangtua memiliki andil yang besar dalam pendidikan anaknya, baik dalam segi waktu, materi, dan tenaga. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan rumah merupakan hal penting bagi proses perkembangan anak. Proses ini semestinya tidak terhambat oleh masalah finansial. Hal yang penting adalah bagaimana orangtua membuat kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru.

Pemberian stimulus akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Ini berkaitan erat dengan perkembangan sosial-emosional anak. Perkembangan sosial-emosional adalah perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persabatan, dan pengertian tentang moral.

Stimulus yang diberikan orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua menginginkan anaknya santun berbahasa, maka berikan stimulus yang positif. Setiap aktivitas yang ada dan terjadi di lingkungan rumah merupakan rangkaian dari proses pemerolehan yang sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui (salah satunya) pola asuh yang mendidik.