June 2010
S M T W T F S
     
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
ilmu keluarga dan kosumen
IPB Badge


Psychosocial Predictors of Sexual Initiation and High-risk Sexual behaviors In Early Adolescence

Data jurnal ilmiah yang berjudul “Psychosocial predictors of sexual initiation and high-risk sexual behaviors in early adolescence” diambil melalui self-report survey yang dilakukan pada tahun 2001 dan 2003 dengan objeknya yaitu kelompok kelas enam sekolah dasar (149 kelas dari 17 smp dan sma, populasi keseluruhan berjumlah 1175) di sebuah kota kecil yang terletak di bagian northeast, US.

Hal yang pertama diuji adalah faktor apa saja yang menjadi masalah internal dan eksternal pada anak kelas enam sekolah dasar, rasio perubahan pada faktor-faktor ini selama menjalani sekolah dasar/sekolah menengah pertama, dan perkiraan perilaku seksual usia dini dalam dua tahun kemudian; saat sebagian besar anak-anak tersebut berada di kelas delapan atau setara dengan kelas tiga sekolah menengah pertama di indonesia.

Peneliti kemudian menilai tiga hal tersebut (faktor-faktor  masalah internal atau masalah eksternal di kelas enam sekolah dasar, dan rasio perubahan selama mereka masih di sekolah dasar, diperkirakan terikat dengan perilaku seksual yang berisiko tinggi selama dua tahun kemudian) agar dapat menganalisis hasil akhirnya.

Hasil dari penelitian ini adalah murid-murid tersebut terbagi menjadi dua kategori: mereka yang sudah aktif secara seksual di tahun ketiga (n=235 (235%)) dan mereka yang tidak aktif secara seksual di tahun ketiga (n=692 (74,6%)).

Kemunduran hirarki yang logistik dengan penyebab utamanya yaitu perilaku seks pada usia dini (murid-murid yang tidak aktif secara seksual saat kelas enam sekolah dasar, tetapi dilaporkan menjadi aktif secara seksual di tahun ketiga saat sekolah, 1/0) sebagai variabel dependent. Jenis kelamin (laki-laki (1)/perempuan (0), ras (dengan variabel yang dibuat untuk afrika-amerika (1/0) dan hispanik (1/0)), SES yang rendah dan sensasi yang dicari (sensation seeking) termasuk sebagai kontrol.

Penelitian ini menilai efek yang tidak biasa dari beberapa bentuk tentang faktor internal dan eksternal psikopatologi dalam aktivitas seksual dan seks bebas di usia sekolah menengah pertama. Dengan menggunakan tiga tahun desain longitudinal yang memakai tiga macam pengukuran, peneliti memasukkan psikopatologi dari anak-anak kelas enam sekolah dasar sebagai prediktor di perilaku seks usia dini dan perilaku seks yang beresiko tinggi.

Dalam penelitian ini, laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan dalam mencoba intercourse dan tiga kali lebih banyak beresiko melakukan perilaku seksual daripada perempuan dengan perbandingan umur yang sama. Hasil ini diperkirakan karena laki-laki lebih sering membicarakan perilaku tersebut dibandingkan perempuan.

Peneliti juga menemukan koresponden dengan status ekonomi-sosial yang rendah (termasuk di dalamnya struktur keluarga, pendidikan dari orang tua, dan perwakilan ukuran untuk status ekonomi) mempunyai risiko meningkatnya melakukan intercourse lebih awal dibandingkan teman bermainnnya. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang memperlihatkan bahwa pemuda yang orang tuanya adalah single parents, pendapatan rendah atau pengasuhan yang kurang bagus melakukan seks lebih dulu dibandingkan teman bermainnya. Beberapa telah dihipotesiskan bahwa kemiskinan (dengan single parents dan kurangnya pengetahuan tentang pengasuhan) meningkatkan risiko berperilaku seks (karena terbatasnya dan kurangnya kualitas dalam bersosialisasi dan tenaga pengajar di lingkungan rumah dan masalah ekonomi yang menyebabkan kurangnya pengawasan dari orang tua). Walaupun status sosial-ekonomi dihubungkan dengan meningkatnya resiko perilaku seks usia dini, keterkaitan ini menurun secara signifikan saat psikopatologi megubah variabel sepanjang masa yang dimasukkan ke dalam analisis, ini semua cenderung karena status sosial-ekonomi juga diasosiasikan dengan peningkatan yang luar biasa di faktor eksternal dan sedikit penurunan di masalah internal.

Penelitian baru-baru ini terkait dengan remaja Amerika menemukan bahwa remaja yang melakukan seks di usia dini terkorelasi dengan perilaku seksual yang lebih berisiko seperti misalnya, meningkatnya partner seks dan menurunnya penggunaan kontrasepsi yang mengakibatkan meningkatnya resiko kehamilan tak terencana dan menyebarnya penyakit seks menular. lebih lanjut, dengan menyediakan petunjuk dan perhatian untuk mereka yang aktif di usia muda bisa menurunkan efek negatif dari perilaku seksual usia dini.

Dari faktor psikososial yang telah diteliti, peneliti menemukan bahwa faktor eksternal lebih dapat diperkirakan untuk risiko seksual di usia dini dibandingkan dengan faktor internal. hasil ini mendukung penemuan yang sama di beberapa dokumen literatur antara penyimpangan eksternal di masa kecil dengan  masalah perilaku yang menunjukkan psikopatologi eksternal di masa kecil lebih berpengaruh terhadap perilaku seksual daripada psikopatologi perilaku yang menganiaya.

Kesimpulan dari artikel ilmiah ini adalah orang tua sebagi pendidik utama dalam keluarga seharusnya bisa menentukan pola pengasuhan yang tepat dalam menyikapi usia rentan anak-anaknya (yaitu saat usia anak-anak 11 tahun sampai remaja) sehingga sang anak dapat menentukan cara bersikap dalam menghadapi suatu kondisi sosial di masyarakat dan dapat menganalisis pergaulan mana yang baik dan buruk untuk kehidupan remaja mereka. Tidak hanya berperan sebagai pendidik tetapi juga bisa menempatkan posisi sebagai teman saat anak-anaknya membutuhkan teman bercerita sehingga sang anak tidak canggung dalam bersikap di depan orang tua mereka dan merasa nyaman juga terbuka. Dengan ini orang tua dapat mengawasi perilaku anak tanpa harus selalu mengikuti mereka kemanapun. Rasa kepercayaan orang tua terhadap anak-anak mereka diperlukan pada tahapan ini.

Untuk kasus anak-anak yang berasal dari keluarga miskin (status sosial-ekonomi yang rendah) seharusnya ada bantuan yang konkret dari masyarakat seperti tetangga atau sekolah atau bahkan pemerintah dalam bentuk memberikan pengetahuan kepada kepala keluarga tersebut tentang pentingnya pendidikan seks di usia dini dan cara-cara penyampaian ke anak-anak mereka kemudian juga pengetahuan tentang betapa pentingnya pengawasan orang tua terhadap pergaulan anak-anak mereka, lalu pentingnya suatu pendidikan formal untuk perkembangan anak (tentu saja dengan bantuan pendidikan gratis bila keluarga tersebut disinyalir tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan  anak mereka), adanya bimbingan untuk anak-anak yang kurang mampu ini sehingga mereka tidak masuk dalam pergaulan bebas dan tidak melakukan perilaku seksual di usia dini.

Review artikel ilmiah tentang keluarga

Give Thanks – No Matter What

Penelitian menunjukkan bahwa berterima kasih bagus untuk diri kita. Hal ini dibuktikan dengan orang-orang yang melakukan hal tersebut lebih sehat dibandingkan orang-orang kebanyakan dan lebih sukses dalam meraih impian-impian mereka. Robert Emmons, Ph.D., seorang profesor di University of California, Davis, and pengarang buku “Thanks! How Practicing Gratitude Can Make You Happier.” mengungkapkan bahwa tidak ada yang salah dengan berpura-pura bersyukur atau berterima kasih karena cepat atau lambat kita akan menjadi tulus dalam melakukannya. Barry Schwartz seorang profesor di bidang psikologi di universitas Swarthmore, Pennsylvania berkata bahwa ia tidak pernah menemui orang tua yang menginginkan hal yang cukup untuk anak mereka. Orang tua selalu menginginkan hal yang terbaik bagi anak mereka. Tetapi bila kebahagiaan adalah tujuan kita maka itulah yang akan kita dapatkan.

Menurut fakta, otak manusia harus bertindak dan merasakan hal yang sama. Contohnya saja anak kecil susah tersenyum saat berkata sesuatu yang jahat. Ekspresi mereka akan mengikuti apa yang diucapkan oleh mulut mereka. Karena itu orang-orang dianjurkan untuk berdoa karena di dalam isi suatu doa tidak ada yang jelek. Sering-seringlah kita mengucapkan hal-hal yang baik karena dengan otomatis seluruh tubuh kita atau perilaku kita akan melakukan dan menghasilkan sesuatu yang baik pula.

Tetapi dalam keseharian kita selalu saja menemukan orang-orang yang tidak pernah puas terhadap apa yang telah mereka miliki. Schwartz menyebut orang-orang ini sebagai “maximizers”. Ada juga tipe orang yang disebut dengan beliau sebagai “satisficer”, orang-orang yang santai dan menikmati apapun itu yang mereka miliki tanpa peduli dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.

Schwartz menyarankan untuk menjadi “satisficer” dan ajarkan anak untuk melakukan hal yang sama. Anak kecil melihat orang tua sebagai role model mereka. Hal ini juga dijelaskan di mata kuliah psikologi anak yang memaparkan bahwa salah satu tahapan anak dalam perkembangan mereka adalah imitating atau meniru. Dengan bersikap dan berkata yang baik maupun sopan, anak dengan sendirinya akan meniru perilaku orang tua tersebut karena anak belajar dari lingkungan (teori ini disebut dengan enviromentalism). Dan lingkungan yang essensial bagi seorang anak adalah keluarga dengan orang tua sebagai pendidik dan pengawas utama tumbuh kembang anak.

Bila terkadang kita tidak berhasil dalam berperilaku sebagai seorang “satisficer” karena itu bukanlah sifat kita yang asli maka coba untuk meyakinkan pada diri sendiri bahwa kita sudah melakukan setengah perjalanan dengan mencoba menjadi seorang “satisficer”. Jika kita menemukan hambatan, cobalah untuk bersantai sejenak lalu mambaca buku dan kemudian fokuskan kembali pikiranmu.

Penelitian membuktikan bahwa orang-orang yang bahagia adalah orang-orang yang berfokus pada kebahagiaan dan hal-hal yang menyenangkan: baik itu hal-hal di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Seperti yang dijelaskan pada buku The secret, sebuah buku motivasi terkenal di dunia, pikiran kita adalah antena terhebat di dunia. Dia mengirimkan sinyal-sinyal ke jagat raya dan menarik sinyal-sinyal lain yang serupa ke diri kita. Analogi pikiran dan antena ini menjelaskan bahwa apa yang kita pikirkan atau apa yang kita fokuskan adalah apa yang akan kita dapatkan, baik itu cepat maupun lambat akan datang pada diri kita suatu saat nanti, dan itu bersifat pasti. Kekuatan pikiran adalah kekuatan yang menakjubkan tanpa kita sadari sebeumnya.

Menurut Loyola, seorang profesor di bidang psikologi universitas Chicago, memikirkan hal yang bahagia merupakan suatu tantangan yang berat bagi orang dewasa karena mereka cenderung memikirkan hal-hal yang negatif. Tapi sangat mungkin untuk mengajarkan pemikiran bahagia kepada anak-anak walaupun mereka sedang menghadapi suatu masalah, hal ini disebut mengambil hikmah sari suatu peristiwa dengan cara yang menyenangkan.

Cara mengajarkan hal tersebut adalah dengan memfokuskan segala sesuatu di point-point yang bagus saja. Seperti misalnya saat orang tua menceritakan apa yang mereka alami di hari itu, coba untuk menekankan di bagian saat mereka berusaha untuk menghadapi suatu masalah. Dengan begitu maka sang anak akan belajar bagaimana bersikap saat anak menghadapi suatu permasalahan di lingkungan sosialnya.

Anak kecil mungkin saja selalu mengganggu dengan meminta apa yang mereka mau. tapi penelitian selalu menemukan bahwa keinginan untuk memiliki segalanya bukanlah suatu jalan menuju kebahagiaan. Nyatanya, peneliti menemukan bahwa orang-orang akan memberikan imbalan daripada menerima mereka sekaligus. Kita harus berada pada situasi di luar dari zona nyaman kita dan dengan begitu kita akan lebih menghargai apa yang telah kita dapat. Misalnya saja, kita selalu menginginkan rumah yang lebih bagus dari rumah yang kita tempati saat ini. Untuk menghargai dan mensyukuri apa yang kita dapat maka kita harus tinggal atau setidaknya pergi ke tempat yang lebih kumuh. Dengan begitu, kita akan menyadari apa yang kita miliki dan akan lebih banyak bersyukur ke depannya. Teori ini dapat dipraktekkan terhadap anak-anak agar mereka lebih menghargai apa yang mereka miliki dari usia dini.

Comments are closed.